Monday, January 21, 2013

SELALU ADA PELUANG DIANTARA KONDISI KRISIS..

Kagak bisa lewat om.. aernya di tengah sepinggang. Naek grobak aja, kagak dimahalin kok? emang si Om mau kemana?

Tawaran jasa mengantarkan warga yang terhadang banjir menjadi fenomena umum. berbagai jenis dan ukuran grobak yang sebelumnya berfungsi mengangkut sampah, barang bekas atau barang dagangan beralih fungsi. Mereka pun membentuk kelompok-kelompok kecil untuk melayani jasa mengangkut orang, barang atau kendaraan roda dua. Biaya jasa tentu bervariatif. dari 20.000 -  50.000. Bahkan tidak jarang lebih.

Tentu tidak hanya gerobak yang di karyakan. Perahu/rakit pun bermunculan dengan jenis, bentuk dan ukuran. Bahkan dibeberapa kawasan elit, menurut laporan statius TV Swasta - harga sewa perahu mencapai jutaan. berbagai usaha dadakan pun bermunculan. Yang juga muncul adalah mengelola lahan parkir atau penitipan kendaraan.

Bagi sebagian orang, banjir bisa menciptakan peluang ekonomi. Bahkan peluang temporary ini pun jauh melampaui pendapatan hariannya. "Lumayan lah om -  sekedar buat beli rokok sama kopi. dari pada nganggur dan mikirin banjir. udah barang2 ancur di rumah - kagak ada makanan -  istri ngomel2, anak nangis minta jajan -  mending kerja khan?".



Sebagian yang lain - pedagang kaki lima/asongan pun ketiban rezeki. Mangkal di kerumunan orang, baik yang berniat untuk menembus banjir atau sekedar wisata banjir, merupakan peluang emas. "Kalau jualan makanan dan minuman -  udah pasti laku bang. semua orang kan butuh makan? Lumayan disini. kagak perlu cape muter2 kampung. tengah hari aje udah abis"

Terlepas dari sisi negatif yang kadang muncul -  kreatifitas atau kepandaian melihat peluang ekonomi patut kita apresiasi. Banjir yang telah menjadi bencana tidak serta merta menutup secara total peluang ekonomi. Bagi sebagian orang yang tidak siap dan tidak mampu menyesuaikan -  tentu banjir menjadi petaka. tidak saja kerugian ekonomi -  jiwa pun bisa terancam. Namun bagi yang siap -  bisa jadi banjir menjadi kondisi yang dinantikan?

Sebagai warga yang tinggal di wilayah banjir atau wilayah berisiko -  dimana posisi kita? orang yang menyerahkan pada nasib atau menempatkan berbagai ancaman bencana yang ada sebagai peluang. Atau paling -  seluruh aset-aset yang kita miliki sebagai hasil jerih payah kita selama ini terlindungi dari dampak bencana?




No comments: